Minggu, 27 Desember 2015

Yoga-Zen and Individual Limits

Murakami Haruki, my favourit author di bukunya`What I talk about when I talk about running` menulis `Exerting yourself to the fullest within your individual limits: that’s the essence of running, and a metaphor for life—-and for me, for writing as well.” Quote yang saya tulis di post-it dan saya tempel di kaca kantor, yang selalu saya lirik tiapkali kelelahan mengajar sampai malam, mengoreksi ratusan paper dan membimbing puluhan skripsi...

Saya ga akan bicara soal lari karena lari yang paling saya kuasai adalah lari dari kenyataan..atau juga tentang menulis..apalagi..Bahkan untuk menulis blog saja tekadnya dari 2012 dulu baru sempat ditulis sekarang#slap my face..Jadi ini bukan tentang kedua hal yang dimetaforakan oleh Haruki tapi tentang individual limits yang menggugah pikiran saya

Setahun lalu saya belajar yoga. Semakin menekuni, saya semakin takjub dengan olahraga yang satu ini karena selalu ada surprise yang diberikan tubuh kepada saya. Tubuh saya berproses seiring dengan pemikiran saya. Saya juga mempelajari Budhism Zen (karena mengajar pola pemikiran  Masyarakat Jepang) dan menemukan kesamaan pada keduanya, Yoga dan Zen yaitu bagaimana cara mengontrol tubuh dengan mengontrol pikiran, atau balancing body and mind. Ketika pikiran menyuruh tubuh kita untuk kuat, maka tubuh mengikuti, begitu pula ketika  pikiran kita menyurut...tubuh ikut-ikutan mogok, makanya banyak yang bilang penyakit itu datangnya dari pikiran. Pemikiran Zen ini digunakan untuk melatih para samurai Jepang agar kuat  dengan cara mengontrol pikirannya. Begitu pula di Yoga, ketika pikiran saya menyangsikan..maka tubuh saya tidak merespon, tapi ketika pikiran saya bilang saya bisa...maka tubuh menunjukkan keajaibannya.

Dan konsep ini sudah terbukti beberapa kali dalam hidup saya, ketika saya mengalami sesuatu yang saya anggap tidak mungkin tapi dengan terus berpikir optimis, tubuh saya mengikuti perintah tuannya.
Misalnya, dulu sewaktu mengerjakan tesis, demi mengejar lulus tepat waktu 2 tahun karena sudah tidak punya tabungan lagi untuk bayar SPP S2, saya mati-matian ngebut menyelesaikan tesis dalam waktu 2 bulan. Oktober awal seminar proposal, desember minggu ketiga saya bisa sidang. Pace-nya, tiap hari harus berkorban tidur cuma beberapa jam. Saat revisi terakhir, dosen pembimbing meminta perbaikan total diserahkan keesokan harinya pukul 14.00. Saya menerima perintah itu tepat pukul 13.30. Pulang dari kampus, saya makan nasi secukupnya, beli susu sekotak dan berbungkus-bungkus snack coklat lalu mulai revisi tanpa tidur sama sekali. Keesokan harinya, jam 14.00 tepat bisa diserahkan ke dosen pembimbing dan diACC bisa sidang tesis di akhir desember. Harusnya saya pulang karena sudah 24 jam lebih tidak tidur, tapi dasar tukang main, demi merayakan diACC saya malah karaokean sama teman-teman dan pulang larut malam. Kalau dipikir-pikir, tubuh saya tidak berhenti berkerja selama 35 jam. 

Di kesempatan yang lain pula, karena ada symposium di Jakarta sementara penelitian saya belum kelar 100%,saya  sempat 24 jam nonstop bergerak tanpa istirahat. Mulai dari pukul 12 malam, bersiap-siap dijemput travel paling pagi dari Malang ke bandara Juanda Surabaya. Saya pilih penerbangan paling pagi supaya segera tiba di Jakarta. Sampai Jakarta langsung ke perpustakaan nasional mencari data dan menyelesaikan presentasi. Jam 8 malam, teman-teman kos yang lama di Depok mengajak reuni, jadi dinner bareng dan haha-hihi dulu sampai jam 11 malam, jam 11 saya menyelesaikan powerpoint, Jam 12 malam lagi baru tidur.

Saya pikir badan saya bisa diajak kuat begitu karena saya masih muda pada waktu itu. Sejak digit di awal umur angkanya berubah jadi langsung merasa uzur. Yang terbaru sekali, Tuhan menantang tubuh saya apa bisa diajak lari-lari tanpa istirahat seperti dulu. Di awali dengan jadwal presentasi yang tiba-tiba mundur terus sampai akhirnya keduanya numpuk di tanggal yang sama, 23 Desember (Saat ini saya sedang menempuh studi S3 di suatu universitas di Kyoto, Jepang). Sementara, jauh-jauh hari sebelum saya tahu jadwal presentasi bakal mundur, saya sudah mengiyakan permintaan sensei saya di Tokyo untuk menjadi interpreter saat kunjungan kepala perpus nasional Indonesia di kampusnya. Artinya sehari sebelum saya presentasi, saya justru harus bolak-balik Kyoto-Tokyo. Untungnya saya diberi tiket Shinkansen sehingga perjalanan Kyoto-Tokyo cepat saja, hanya 2 jam (jarak Tokyo-Kyoto diibaratkan Jakarta-Surabaya). Lalu ditambah lagi demi perpanjangan beasiswa saya harus menyelesaikan proposal penelitian yang diminta deadline-nya hari senin (inipun dadakan). 
Jadi skedul saya kala itu ; Senin --> deadline research proposal, malamnya ke Tokyo dengan Shinkansen
                                                    Selasa -->Interpreter di Tokyo, malamnya balik lagi ke Kyoto
                                                    Rabu --> Presentasi 2
Seminggu sebelumnya ketika saya tahu jadwal saya jadi begini saya cuma bisa nangis stres. Di tambah lagi ini presentasi pertama saya di Jepang dengan sistem dan cara penelitian yang berbeda dengan yang ada di Indonesia. Tapi saya ingat Yoga dan Zen, dan percaya bahwa Tuhan tidak mungkin menguji hambaNya di luar batas kemampuannya. Tubuh saya pasti bisa diajak melewati 3 hari berat itu kalau pikiran saya juga menguatkannya. Dengan percaya bahwa Tuhan sudah menyiapkan semuanya sebaik-baiknya saya berjuang melewati batas individual saya yang sebelum-belumnya, seminggu non-stop hanya tidur 2-3 jam, selebihnya di study room, diasupi gizi dari buah-roti-susu-kopi, dan berderai-derai shalawat dan doa minta kekuatan diri.

Senin dini hari, selesai tahajud saya bicara pada tubuh ..memohon pengertiannya agar bertahan sedikit lagi, meminta kerjasama pikiran dan tubuh untuk membantu saya melewati hari-hari itu nanti. Dan tentunya meminta pada Tuhan untuk terus diberi kekuatan..Voila...Sesuatu yang sebelumnya saya anggap tidak mungkin ternyata berjalan lancar dan biasa-biasa saja. Saya pikir begitu Rabu berlalu saya akan tumbang atau malah tidak fokus pada saat presentasi tapi yang dikhawatirkan ternyata tidak terjadi Ketakutan hanya ada dalam pikiran, tapi Pikiran harusnya menjadi tuan..

Saya lalu mempercayai sekali lagi bahwa ketika pikiran sudah bisa kita seimbangkan, maka tubuh akan memberikan kejutan. Individual limit saya terus ditantang untuk naik level..dan saya tahu sekali, makin kesana hidup bukannya makin mudah, tapi justru semakin sulit. Oleh karena itu, menantang batasan diri dan melewatinya adalah cara terbaik untuk mengetahui seberapa kuat kita, seberapa jauh pencapaian  dan seberapa besar sayang Tuhan  menyiapkan `special training` seperti ini untuk membentuk diri yang lebih baik..







Tidak ada komentar:

Posting Komentar